Contoh Tulisan Berjalan

Jumat, 04 Maret 2016

Perkembangan Sepatu Wanita Sebagai Perangkat Fashion


Jika di abad pertengahan sepatu Chopine yang didisian dengan hak tinggi hanya boleh dipakai oleh para wanita di kalangan kerajaan dan bangsawan, kini sepatu wanita keluaran rumah mode rancangan disainer terkenal hanya bisa dipakai oleh para wanita dari kalangan high class. Pesatnya perkembangan di dunia fashion dimana sepatu wanita juga menjadi salah satu bagian penting, telah ikut mengubah fungsi sepatu yang hanya sebagai alas kaki maupun status sosial penggunanya.

Karena dalam pemahaman di dunia fashion, sepatu wanita bukan satu-satunya perangkat yang bisa menentukan penampilan seorang wanita secara optimal. Sepatu harus bisa “berkolaborasi” bahkan harus bisa “berkompromi” dengan perangkat fashion lainnya agar secara sinergis bisa menciptakan efek penampilan yang prima bagi seorang wanita. Di segi “internal”-nya, sepasang sepatu juga harus bisa memenuhi tuntutan aspek keamanan dan kenyamanan.

Dunia fashion juga bergerak semakin cepat karena terkorelasi dengan perkembangan teknologi yang memungkinkan dihasilkan beragam material baru sebagai bahan-bahan kebutuhan pembuatan sepatu. Teknologi juga memberikan dukungan kepada para disainer untuk bekerja lebih cepat dan efisien, sehingga bisa merancang lebih banyak model sepatu wanita. Akibatnya masa daur hidup sebuah model sepatu semakin menjadi lebih singkat, kini semakin banyak sepatu wanita yang dijual tidak saja dengan harga murah, melainkan murah dan berkualitas.

Sementara di sisi konsumen, kebutuhan menggunakan sepatu juga berubah bukan lagi didasarkan pada tuntutan fungsinya sebagai alas kaki, melainkan lebih cenderung sebagai kebutuhan untuk tampil lebih elegan, cantik dan menarik. Para wanita yang kurang memiliki kesadaran fashion seringkali memahami secara “terbalik” terhadap fungsi dan tujuan sepatu yang dibutuhkannya.

Mereka berangkat ke mall atau browsing di internet untuk membeli sepasang sepatu bukan disebabkan kakinya merasa sakit karena tidak menggunakan alas kaki. Ironisnya yang terjadi justru terbalik, karena mereka ingin merasa sakit atau sedikitnya ingin terkilir dan terjatuh maka membeli sepasang alas kaki yang menjadi ikon kecantikan dan dinamakan Stiletto high heels. Mereka tidak memilih sepatu wanita yang aman, melainkan justru “membeli resiko”.

0 komentar:

Poskan Komentar